Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Sunday, October 19, 2014

Cerita Islami - Sayyidina Ali Jual-Beli Dengan Dua Malaikat

Cerita Islami - Sayyidina Ali Jual-Beli Dengan Dua Malaikat - Udah lama ga posting, dengan berbagai alasan pokoknya lah. Salah satunya sibuk dengan pekerjaan. Pagi, siang, malem kerja, lho istirahatnya kapan... haha...Update kali ini farray akan bagikan kepada sobat pembaca tentang kisah hikmah Sayyidina Ali Jual-Beli Dengan Dua Malaikat.

Membaca kisah ini membuat berpikir betapa lemahnya iman aku, tetapi ada juga rasa rindu dengan beliau-beliau yang telah berjasa dengan tegaknya agama ini. Terlebih dengan Al-Mustofa Sayyidina Muhammad SAW (Ya Allah, sampaikanlah shalawat serta salam yang sempurna sebanyak bilangan nafas semua mahluk-mahluk ciptaan engkau dari awal hingga akhir kepada beliau, keluarga beliau, sahabat serta semua umat beliau, aamiin). Mari sama-sama kita baca kisah ini sob, semoga akan memberikan manfaat buat kita, terutama keimanan dan ketakwaan kita.

Sayyidina Ali Bin Abi Thalib
Sayyidina Ali Jual-Beli Dengan Dua Malaikat


Sayyidina Ali Jual-Beli Dengan Dua Malaikat


Kisah ini diriwayatkan Ja’far bin Muhammad, yang memiliki sanad dari ayahnya, lalu dari kakeknya. Suatu ketika, cerita kakek Ja’far, Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramaLlahu wajhah mengunjungi rumahnya selepas silaturahim kepada Rasulullah.

Di rumah itu Ali menjumpai istrinya, Sayyidah Fathimah, sedang duduk memintal, sementara Salman al-Farisi berada di hadapannya tengah menggelar wol. 

“Wahai perempuan mulia, adakah makanan yang bisa kau berikan kepada suamimu ini?” tanya Ali kepada istrinya.

“Demi Allah, aku tidak mempunyai apapun. Hanya enam dirham ini, ongkos dari Salman karena aku telah memintal wol,” jawabnya. “Uang ini ingin aku belikan makanan untuk (anak kita) Hasan dan Husain.”

“Bawa kemari uang itu.” Fathimah segera memberikannya dan Ali pun keluar membeli makanan.

Tiba-tiba ia bertemu seorang laki-laki yang berdiri sambil berujar, “Siapa yang ingin memberikan hutang (karena) Allah yang maha menguasai dan mencukupi?” Sayyidina Ali mendekat dan langsung memberikan enam dirham di tangannya kepada lelaki tersebut.

Fatimah menangis saat mengetahui suaminya pulang dengan tangan kosong. Sayyidina Ali hanya bisa menjelaskan peristiwa secara apa adanya.

“Baiklah,” kata Fathimah, tanda bahwa ia menerima keputusan dan tindakan suaminya.

Sekali lagi, Sayyidina Ali bergegas keluar. Kali ini bukan untuk mencari makanan melainkan mengunjungi Rasulullah. Di tengah jalan seorang Badui yang sedang menuntun unta menyapanya. “Hai Ali, belilah unta ini dariku.”

”Aku sudah tak punya uang sepeser pun.”

“Ah, kau bisa bayar nanti.”

“Berapa?”

“Seratus dirham.”

Sayyidina Ali sepakat membeli unta itu meskipun dengan cara hutang. Sesaat kemudian, tanpa disangka, sepupu Nabi ini berjumpa dengan orang Badui lainnya.

“Apakah unta ini kau jual?”

“Benar,” jawab Ali.

“Berapa?”

“Tiga ratus dirham.”

Si Badui membayarnya kontan, dan unta pun sah menjadi tunggangan barunya. Ali segara pulang kepada istrinya. Wajah Fatimah kali ini tampak berseri menunggu penjelasan Sayyidina Ali atas kejadian yang baru saja dialami.

“Baiklah,” kata Fatimah selepas mendengarkan cerita suaminya.

Ali bertekad menghadap Rasulullah. Saat kaki memasuki pintu masjid, sambutan hangat langsung datang dari Rasulullah. Nabi melempar senyum dan salam, lalu bertanya, “Hai Ali, kau yang akan memberiku kabar, atau aku yang akan memberimu kabar?”

“Sebaiknya Engkau, ya Rasulullah, yang memberi kabar kepadaku.”

“Tahukah kamu, siapa orang Badui yang menjual unta kepadamu dan orang Badui yang membeli unta darimu?”

“Allah dan Rasul-Nya tentu lebih tahu,” sahut Ali memasrahkan jawaban.

“Sangat beruntung kau, wahai Ali. Kau telah memberi pinjaman karena Allah sebesar enam dirham, dan Allah pun telah memberimu tiga ratus dirham, 50 kali lipat dari tiap dirham. Badui yang pertama adalah malaikat Jibril, sedangkan Badui yang kedua adalah malaikat Israfil (dalam riwayat lain, malaikat Mikail).”

Kisah yang bisa kita baca dari kitab al-Aqthaf ad-Daniyah ini menggambarkan betapa ketulusan Ali dalam menolong sesama telah membuahkan balasan berlipat, bahkan dengan cara dan hasil di luar dugaannya. 

Keluasan hati istrinya, Fathimah, untuk menerima keterbatasan juga melengkapi kisah kebersahajaan hidup keluarga ini. Dukungan penuh dari Fathimah telah menguatkan sang suami untuk tetap bermanfaat bagi orang lain, meski untuk sementara waktu mengabaikan kepentingannya sendiri: makan.

Mari kita sama-sama ambil pelajaran dari kisah hikmah diatas, betapa suci, bersih serta tulusnya hati mereka. Yang mana sungguh dijaman ini sangat lah susah menemukan orang seperti beliau-beliau. Kita memohon, berharap serta bertawakal kepada Tuhan Semesta Alam, Yang Maha Tunggal, Maha Sempurna, Maha Kekal Abadi, Maha Agung, Maha Mulia ALLAH SWT untuk diberikan kemudahan mengendalikan diri ini dan apa-apa yang ada dalam diri ini, menuju kejalan yang penuh dengan kemuliaan, Rahmat serta Keridhaan ALLAH SWT. Dan jangan berhenti untuk terus berusaha merubah keburukan-keburukan kita, meskipun hal itu sangatlah berat, karena ALLAH SWT tidak akan merubahnya jika kita tidak berusaha untuk merubah sendiri.

Tuesday, April 15, 2014

Kata Kata Mutiara Islam Yang Bijak Dan Penuh hikmah

Kata mutiara islami berikut ini admin suguhkan buat sobat pembaca semua. Mungkin sobat yang saat ini sedang membutuhkan dorongan mental tentunya sangat pas sekali jika membaca kumpulan kata kata hikmah berikut ini. Karena kata2 mutiara ini akan memberikan inspirasi pada sobat semua dan juga ketenangan hati serta pikiran.

kata kata bijak islami

Kata mutiara bijak islami


Orang yang kuat bukanlah orang yang melemparkan lawannya ke tanah. Orang kuat adalah orang yang melawan dirinya sendiri ketika ia sedang marah. (Nabi Muhammad SAW)
Latihan rohani seseorang berjalan baik dengan teman-teman dekatnya; jadi pertimbangkan baik dengan siapa Anda berteman. (Imam Tirmidhi)
Seseorang telah cukup melakukan kesalahan dalam hidupnya jika ia hanya mengulangi semua yang mendengar. (Anonim)
Seorang teman tidak bisa dianggap teman sampai ia diuji dalam tiga kesempatan: pada waktu dibutuhkan, sikap di belakang anda, dan setelah kematian Anda. (Sayyidina Ali ibn abi Talib ra)
Sikap buruk merusak perbuatan baik, seperti cuka merusak madu. (Nabi Muhammad SAW)
Lakukanlah seluruh aktivitas kita dengan penuh cinta dan hanya mengharapkan keridhaan-Nya sehingga akan bernilai ibadah. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah kita lelah berjuang. (Anonim)
Rasulullah bersabda :“ Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, maka baginya seperti pahala yang melakukannya” (HR. Muslim)
Sesungguhnya apabila badan sakit maka makan dan minum sulit untuk tertelan, istirahat dan tidur juga tidak nyaman. Demikian pula hati apabila telah terbelenggu dengan cinta dunia maka nasehat susah untuk memasukinya. (Malik bin Dinar)
Ada tiga perkara pada diriku, aku tidak menyebutkannya kecuali supaya dapat diambil pelajaran, Pertama “Aku tidak mendatangi penguasa (sulthan) kecuali jika di undang, kedua, Aku tidak masuk pada dua orang kecuali setelah keduanya mempersilahkanku masuk diantara mereka, ketiga, tidaklah aku menyebutkan seseorang setelah dia pergi dari sisiku kecuali kebaikan-kebaikan. (Al Ahnaf bin Qais)
Barang siapa yang rela dengan ketetapan Allah maka ketetapan itu berlaku padanya dan ia mendapatkan pahala. Dan barang siapa yang tidak rela dengan ketetapan Allah maka ketetapan itu juga tetap berlaku padanya, sedangkan ia terputus amalnya. (Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra)
Barang siapa yang dibenci manusia karena mencari ridha Allah maka manusia (yang lain) akan mencukupinya (membelanya). Barang siapa yang mencari ridha manusia dengan murka Allah maka Allah akan serahkan dia kepada munusia juga. (Ummul Mu’minin Aisyah  ra)
Kemurahan hati Allah dihubungkan dengan rasa syukur, dan rasa syukur terkait dengan peningkatan kemurahan-Nya. Kemurahan hati Allah tidak akan berhenti kecuali rasa terima kasih dari hambanya berhenti. (Sayyidina Ali Ibn Abu Talib ra)
Allah mencintai orang yang tidak mengejar kehidupan dunia, para malaikat mencintai orang yang menolak kejahatan, dan kaum muslimin mencintai orang yang menolak keserakahan. (Sayyidina Uthman ibn Affan ra)
Allah menyukai perbuatan terbaik yang hamba bisa lakukan terus-menerus. (Riyad-Salihin)
Meninggalkan keinginan untuk dunia ini, dan Allah akan mencintaimu. Meninggalkan keinginan untuk barang-barang orang lain, dan orang akan mencintaimu. (Ibn Majah)
Manusia yang paling lemah ialah orang yang tidak mampu mencari teman. Namun yang lebih lemah dari itu ialah orang yang mendapatkan banyak teman tetapi menyia – nyiakannya. (Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra)
Berbahagialah siapa yang selalu ingat akan hari akhir, beramal untuk menghadapi hari perhitungan dan merasa puas dengan ala kadarnya. Sementara ia ridha sepenuhnya dengan pemberian Allah. (Sayyidina Ali ra)
Deburan ombak yang tiada henti menjadi tanda zikirnya pada sang Pencipta.Bagaimana dengan kita ? (Anonim)
Gerhana matahari lebih baik dari gerhana nurani. Gerhana bulan masih lebih baik dari gerhana akal pikiran. Sedangkan gerhana nafsu adalah keselamatan bagimu (Anonim)
Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi musuhmu. Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi kekasihmu. (Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra)
Aku tertawa (heran) kepada orang yang mengejar-ngejar dunia padahal kematian terus mengincarnya, dan kepada orang yang melalaikan kematian padahal maut tak pernah lalai terhadapnya, dan kepada orang yang tertawa lebar sepenuh mulutnya padahal tidak tahu apakah Tuhannya ridha atau murka terhadapnya. (Salman al Farisi)
Tidaklah aku melihat seseorang yang takabbur terhadap yang berada dibawahnya melainkan dia ditimpakan oleh Allah kehinaan melalui orang lain yang lebih tinggi darinya. (Abu Hatim al Basati)
Akhlak yang baik adalah surga dalam kalbu. (Dr. Aidh Abdullah al-Qarni)
Hidupmu saat ini yang diwarnai cinta mendalam pada Allah membuat masa lalu menjadi mimpi yang indah dan masa depan yang penuh harapan. (Dr. Ibrahim Elfiky)
Uang + Ahklaqul Karimah akan menjadi modal yang sangat berharga baik untuk Anda sendiri, maupun untuk kemajuan Umat Islam. Kejarlah keduanya. (Anonim)
Hanya satu motivasi yang ada, yaitu Allah. Adapun motivasi lainnya harus dalam rangka “karena dan/atau untuk” Allah. (Anonim)
Apakah kita bisa untuk mengemban misi kita? Insya Allah kita bisa, karena Allah Mahatahu, Allah tahu sampai dimana potensi dan kemampuan kita. Jika kita tidak merasa mampu berarti kita belum benar-benar mengoptimalkan potensi kita. (Anonim)
Tidaklah seseorang menyembunyikan sesuatu, melainkan Allah akan menampakkannya melalui raut mukanya dan ketergelinciran mulutnya (Sayyidina Utsman bin ‘Affan ra)
Memohonlah kepada Allah supaya memperbaiki hati dan niatmu, karena tidak ada sesuatu yang paling berat untuk kau obati selain keduanya. Ketika hatimu sedang menghadap (Allah) maka seketika mungkin untuk berpaling, maka ketika menghadap itulah engkau harus merampasnya supaya tidak berpaling. (Uwais al Qarni ra)
Seseorang tidak bisa dipegang amanahnya sehingga lurus lisannya, dan dia tidak lurus lisannya sehingga lurus hatinya. (al Hasan al Bashri)

Setelah membaca kata mutiara islam diatas, gimana tanggapan sobat..? Semoga dapat bermanfaat buat sobat atau teman-teman sobat yang lain. baca juga Kata Mutiara Persahabatan Sejati Islami Terbaru 2014 yang telah admin share sebelumnya. Oke sekian saja dari admin, sampai jumpa lagi diupdate selanjutnya. Terima kasih dan semoga hari sobat menyenangkan.

Friday, October 18, 2013

Sayyidina Ali Jual-Beli Dengan Dua Malaikat

Sayyidina Ali Jual-Beli Dengan Dua Malaikat - Udah lama ga posting, dengan berbagai alasan pokoknya lah. Salah satunya sibuk dengan pekerjaan. Pagi, siang, malem kerja, lho istirahatnya kapan... haha...Update kali ini farray akan bagikan kepada sobat pembaca tentang kisah hikmah Sayyidina Ali Jual-Beli Dengan Dua Malaikat.

Membaca kisah ini membuat berpikir betapa lemahnya iman aku, tetapi ada juga rasa rindu dengan beliau-beliau yang telah berjasa dengan tegaknya agama ini. Terlebih dengan Al-Mustofa Sayyidina Muhammad SAW (Ya Allah, sampaikanlah shalawat serta salam yang sempurna sebanyak bilangan nafas semua mahluk-mahluk ciptaan engkau dari awal hingga akhir kepada beliau, keluarga beliau, sahabat serta semua umat beliau, aamiin). Mari sama-sama kita baca kisah ini sob, semoga akan memberikan manfaat buat kita, terutama keimanan dan ketakwaan kita.

Sayyidina Ali Bin Abi Thalib
Sayyidina Ali Jual-Beli Dengan Dua Malaikat


Sayyidina Ali Jual-Beli Dengan Dua Malaikat


Kisah ini diriwayatkan Ja’far bin Muhammad, yang memiliki sanad dari ayahnya, lalu dari kakeknya. Suatu ketika, cerita kakek Ja’far, Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramaLlahu wajhah mengunjungi rumahnya selepas silaturahim kepada Rasulullah.

Di rumah itu Ali menjumpai istrinya, Sayyidah Fathimah, sedang duduk memintal, sementara Salman al-Farisi berada di hadapannya tengah menggelar wol. 

“Wahai perempuan mulia, adakah makanan yang bisa kau berikan kepada suamimu ini?” tanya Ali kepada istrinya.

“Demi Allah, aku tidak mempunyai apapun. Hanya enam dirham ini, ongkos dari Salman karena aku telah memintal wol,” jawabnya. “Uang ini ingin aku belikan makanan untuk (anak kita) Hasan dan Husain.”

“Bawa kemari uang itu.” Fathimah segera memberikannya dan Ali pun keluar membeli makanan.

Tiba-tiba ia bertemu seorang laki-laki yang berdiri sambil berujar, “Siapa yang ingin memberikan hutang (karena) Allah yang maha menguasai dan mencukupi?” Sayyidina Ali mendekat dan langsung memberikan enam dirham di tangannya kepada lelaki tersebut.

Fatimah menangis saat mengetahui suaminya pulang dengan tangan kosong. Sayyidina Ali hanya bisa menjelaskan peristiwa secara apa adanya.

“Baiklah,” kata Fathimah, tanda bahwa ia menerima keputusan dan tindakan suaminya.

Sekali lagi, Sayyidina Ali bergegas keluar. Kali ini bukan untuk mencari makanan melainkan mengunjungi Rasulullah. Di tengah jalan seorang Badui yang sedang menuntun unta menyapanya. “Hai Ali, belilah unta ini dariku.”

”Aku sudah tak punya uang sepeser pun.”

“Ah, kau bisa bayar nanti.”

“Berapa?”

“Seratus dirham.”

Sayyidina Ali sepakat membeli unta itu meskipun dengan cara hutang. Sesaat kemudian, tanpa disangka, sepupu Nabi ini berjumpa dengan orang Badui lainnya.

“Apakah unta ini kau jual?”

“Benar,” jawab Ali.

“Berapa?”

“Tiga ratus dirham.”

Si Badui membayarnya kontan, dan unta pun sah menjadi tunggangan barunya. Ali segara pulang kepada istrinya. Wajah Fatimah kali ini tampak berseri menunggu penjelasan Sayyidina Ali atas kejadian yang baru saja dialami.

“Baiklah,” kata Fatimah selepas mendengarkan cerita suaminya.

Ali bertekad menghadap Rasulullah. Saat kaki memasuki pintu masjid, sambutan hangat langsung datang dari Rasulullah. Nabi melempar senyum dan salam, lalu bertanya, “Hai Ali, kau yang akan memberiku kabar, atau aku yang akan memberimu kabar?”

“Sebaiknya Engkau, ya Rasulullah, yang memberi kabar kepadaku.”

“Tahukah kamu, siapa orang Badui yang menjual unta kepadamu dan orang Badui yang membeli unta darimu?”

“Allah dan Rasul-Nya tentu lebih tahu,” sahut Ali memasrahkan jawaban.

“Sangat beruntung kau, wahai Ali. Kau telah memberi pinjaman karena Allah sebesar enam dirham, dan Allah pun telah memberimu tiga ratus dirham, 50 kali lipat dari tiap dirham. Badui yang pertama adalah malaikat Jibril, sedangkan Badui yang kedua adalah malaikat Israfil (dalam riwayat lain, malaikat Mikail).”

Kisah yang bisa kita baca dari kitab al-Aqthaf ad-Daniyah ini menggambarkan betapa ketulusan Ali dalam menolong sesama telah membuahkan balasan berlipat, bahkan dengan cara dan hasil di luar dugaannya. 

Keluasan hati istrinya, Fathimah, untuk menerima keterbatasan juga melengkapi kisah kebersahajaan hidup keluarga ini. Dukungan penuh dari Fathimah telah menguatkan sang suami untuk tetap bermanfaat bagi orang lain, meski untuk sementara waktu mengabaikan kepentingannya sendiri: makan.

Mari kita sama-sama ambil pelajaran dari kisah hikmah diatas, betapa suci, bersih serta tulusnya hati mereka. Yang mana sungguh dijaman ini sangat lah susah menemukan orang seperti beliau-beliau. Kita memohon, berharap serta bertawakal kepada Tuhan Semesta Alam, Yang Maha Tunggal, Maha Sempurna, Maha Kekal Abadi, Maha Agung, Maha Mulia ALLAH SWT untuk diberikan kemudahan mengendalikan diri ini dan apa-apa yang ada dalam diri ini, menuju kejalan yang penuh dengan kemuliaan, Rahmat serta Keridhaan ALLAH SWT. Dan jangan berhenti untuk terus berusaha merubah keburukan-keburukan kita, meskipun hal itu sangatlah berat, karena ALLAH SWT tidak akan merubahnya jika kita tidak berusaha untuk merubah sendiri.

Tuesday, October 1, 2013

Menguak Tabir Rahasia Thawaf

Menguak Tabir Rahasia Thawaf - Alhamdulillah wasyukrulillah,  saudara-saudara kita sesama Muslim diseluruh dunia sebentar lagi akan melaksanakan rukun Islam yang kelima yaitu menunaikan ibadah Haji. Semoga mereka semua diberi kemudahan-kemudahan serta kekuatan oleh Allah SWT, aamiin...

Rahasia Thawaf Haji
Menguak Tabir Rahasia Thawaf
Thawaf secara harfiyah berarti berputar. Sedang menurut syariat adalah mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh putaran dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Para jamaah haji dan umroh selalu melaksankan thawaf ini, karena ia merupakan rukun dari ibadah tersebut.
Berputar akan membetnuk sudut 360 derajat. Dan ternyata seluruh alam ini pun ikut berputar membentuk sudut 360 derajat. Bumi dan bulan mengitari matahari selama 1 tahun membentuk putaran dan sudut 360 derajat. Demikian juga halnya planet-planet lain di angkasa. Mereka dalam porosnya masing-masing berputar dalam lingkaran galaksi. Dan arah putaran planet-planet pun sama dengan arah putaran thawaf, yakni berlwanan dengan arah jarum jam. Bisa kita bayangkan, bagaimana jika bumi atau planet lain itu berhenti berputar? Boleh jadi akan terjadi kegoncangan dan ketidakstabilan.

Demikian juga orang yang meninggalkan shalat. Mengapa? Karena orang yang menunaikan shalat pada dasarnya sedang membentuk sudut 360 derajat. Bagaimana penjelasannya?
Pada saat kita sedang tegak berdiri, maka posisi kita membentuk sudut setengah lingkaran atau sudut 180 derajat. Sedangkat pada saat kita sedang ruku’ maka posisi kita sedang membentuk segitiga siku-siku atau 90 derajat, Adapun saat kita sedang dalam keadaan sujud, maka akan terbentuk sudut 45 derajat, sedangkan sujud kita dalam satu rakaat berjumlah dua kali (45X2=90 derajat), sehingga jika kita jumlahkan antara posisi saat berdiri, ruku, dan sujud, maka berarti 180+90+45+45= 360 derajat. Ini sama dengan bentuk putaran yang membentuk sudut 360 derajat.
Dengan demikian, “thawaf” adalah kebutuhan kita, kebutuhan alam, dan kebutuhan rohani kita.

Kemudian arah thawaf adalah mengelilingi ka’bah yang posisi ka’bah tesebut berada di sebelah kiri kita, bukan di sebelah kanan. Ini menunjukkan kesamaan arah putaran bumi dan galaksi. Ini juga yang menyebabkan tidak cepat lelahnya orang berthawaf karena seirama dengan arah putaran bumi. Jika kita melihat orang melakukan jogging atau lari kecil di sebuah area, akan kita dapati mereka yang berjoging akan berputar se arah orang yang sedang berthawaf. Sebagai contoh di lapangan olahraga Ahmad Yani Tangerang, atau di arena atletik Senayan, Mereka yang berolahraga mengelililingi lapangan pastilah searah dengan putaran orang berthawaf, padahal mereka tidak bermaksud meniru orang berthawaf.

Di samping itu putaran ke arah kiri juga sesuai dengan arah putaran baling-baling helicopter. Mengapa helicopter mempunyai baling-baling berputar se arah dengan putaran orang yang thawaf? Karena putaran seperti itulah yang dapat mengangkat badan pesawat ke atas. Ini sesuai dengan sebuah keterangan bahwa orang yang berthawaf, pahalanya akan diangkat seperti para malaikat yang bertahwaf mengelelilingi arsy.

Adapun putaran thawaf yang berlawanan dengan arah jarum jam mengandung hikmah menapaki dan merenungkan waktu yang telah dilaluinya, apakah waktu yang kita lewati diisi dengan hal poistif atau negative?. Ini sesuai dengan anjuran Allah SWT yang berfirman: “dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok” (QS. Al-Hasyr: 18)

Jika kita melihat orang-orang yang sedang berthawaf dari layar televisi atau dari lantai tiga atap masjidil Haram, maka kita akan merasa nikmat melihat pemandangan itu. Namun jika kita masuk ke dalamnya dan ikut berthawaf, maka kita akan merasakan sesak dan sulitnya melakukan thawaf itu. Namun meski sulit dan berdesakan bahkan tersikut, kita tidak akan membalas sikutan atau menyakiti orang, bahkan kita tetap konsentrasi mengelilingi ka’bah hingga usai.

Ini sama dengan jika kita melihat kehidupan ini secara zahir. Begitu indahnya kita melihat dunia dan isinya. Akan tetapi jika kita hidup dan bergelut dii dunia ini, ternyata tidak seindah pandangan mata kita. Dalam kehidupan ini tidak jarang kita tersikut dan terdesak pihak lain. Akan tetapi jika kita memaknai hidup seperti thawaf, maka meskipun kita disikut orang, kita tidak akan sikut kanan sikut kiri. Kita harus konsentrasi menyelesaikan thawaf (putaran) hidup kita dengan husnul khatimah.
Sisi lain dari rahasia Thawaf adalah disunnahkannya kita idhtiba’, yakni membuka bagian bahu kanan serta berlari-lari kecil di tiga putaran pertama. Hal ini pernah dilakukan Rasulullah saw saat pertama umroh ke Makkah setelah beliau hijrah ke Madinah. Saat itu, Rasulullah saw mendapat berita dari malaikat Jibril bahwa kedatangan orang-orang muslim ke Makkah akan diejek oleh orang Quraisy dari arah Jabal Abu Qubais, bahwa orang-orang Muslim Madinah kurus-kurus dan berpenyakitan.

Mendengar berita itu, Rasulullah saw memerintahkan para sahabatnya untuk melakukan idhtiba’ (membuka bagian bahu kanannya) dan berlari-lari kecil pada tiga putaran pertama thawaf. Hal ini untuk menunjukkan izzah (kemuliaan) kaum muslimin, bahwa kaum kaum muslimin kekar dan sehat-sehat, tidak seperti yang disangka dan dituduhkan oleh orang Quraisy.

Subhanallah!, tidak ada suatu syariat dan harakat (gerakan) dalam ibadah, melainkan mempunyai hikmah dan tujuan yang Allah SWT rencanakan.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Demikian artikel Menguak Tabir Rahasia Thawaf, semoga bermanfaat buat Sobat semua. Jangan bosan-bosan berkunjung ke blog farray ya... :)

Sumber :
_http://www.sarkub.com/2013/menguak-tabir-rahasia-thawaf/?utm_source=feedburner&utm_medium=email&utm_campaign=Feed%3A+Sarkub+%28Sarkub%29

Wednesday, September 25, 2013

Sikap Lemah Lembut Dalam Ber-Amar Ma’ruf Nahi Munkar



Posted: 24 Sep 2013 07:01 AM PDT
Kalam Al-Quthb ad-Da’wah wa al-Irsyad, Ghauts al-‘Ibad wa al-Bilad, al-Imam al-‘Allamah al-Habib Abdullah bin Alwi... more »
Posted: 23 Sep 2013 09:35 PM PDT
Alhamdulillah Wasyukrulillah bulan Haji/Dzulhijjah akan segera tiba, umat Islam berbondong-bondong berangkat ke tanah suci untuk... more »
Posted: 23 Sep 2013 04:30 PM PDT
Kaum 'salafi' ekstrim berpegang teguh dengan beberapa masalah yang sebenarnya tidak mewakili mayoritas umat. Lagi... more »

Tuesday, September 24, 2013

Fitnah Duduknya Allah di Arsy



Posted: 22 Sep 2013 05:07 AM PDT
Menjawab Fitnah Duduknya Allah Di Atas Arsy Oleh : Ibn Abdillah Al-Katiby   Menjelaskan dan meluruskan... more »

Monday, September 23, 2013

Perusak Makam Kelompok Bercelana Cingkrang


Posted: 21 Sep 2013 12:58 AM PDT
Aksi vandalisme atau perusakan yang terjadi di makam Raden Ngabehi Ki Ageng Prawiro Purbo (1869-1933),... more »

Tips Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga


Posted: 18 Sep 2013 06:49 PM PDT
Siapa yang tak ingin memiliki kisah rumah tangga seromantis Rasulullah SAW dan Siti Khodijah? Pasti,... more »

Thursday, September 19, 2013

Jadilah Orang Yang Berilmu


Sarkub


Posted: 16 Sep 2013 09:58 PM PDT
Maha suci Allah SWT yang telah memberikan nikmat kepada hambaNya berupa iman dan islam. Sholawat... more »
Posted: 16 Sep 2013 05:16 PM PDT
Kopdar ini diselenggarakan di kediaman bapak KH Munawwir/ ibu Hj. Dian Kusumaningrum yang asri dan... more »